Daerah  

PWM dan Rektor UMGO Imbau AMM Tunda Aksi, Minta Hormati Proses Hukum

banner 120x600

Fokus News– Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Gorontalo bersama Rektor Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGO) mengimbau Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) agar menahan rencana aksi demonstrasi dan menghormati proses penyelidikan yang kini berlangsung di Kepolisian Daerah (Polda) Gorontalo.

Imbauan tersebut disampaikan menyusul adanya laporan dugaan penghinaan terhadap Rektor UMGO yang juga merupakan tokoh Muhammadiyah serta salah satu pendiri Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Gorontalo.

Pada Rabu (17/12/2025) pagi, AMM Gorontalo sebelumnya merencanakan aksi besar-besaran sebagai bentuk solidaritas terhadap pimpinan persyarikatan. Namun menjelang siang, sekitar pukul 11.12 Wita, Ketua PWM Gorontalo, Dr. Sabara Karim Ngou, bersama Rektor UMGO, Prof. Dr. Abd. Kadim Masaong, serta perwakilan Badan Pembina Harian UMGO, mendatangi lokasi massa.

Dalam pertemuan tersebut, Dr. Sabara meminta seluruh kader muda Muhammadiyah menahan diri dan memberikan kesempatan kepada kepolisian untuk menyelesaikan penyelidikan secara profesional.

“Kami telah berkomunikasi dengan pihak Polda Gorontalo. Karena itu, kami meminta agar kader tidak terlebih dahulu menurunkan massa dalam jumlah besar. Biarkan proses hukum berjalan sebagaimana mestinya,” ujar Dr. Sabara.

Menunjukkan Kedewasaan Gerakan

Dalam kesempatan yang sama, Rektor UMGO, Prof. Kadim Masaong, menyampaikan apresiasi atas kepedulian dan solidaritas kader muda Muhammadiyah. Namun, ia menekankan pentingnya menjaga sikap rasional dan beradab dalam merespons persoalan hukum.

“Saya memahami kegelisahan adik-adik semua. Itu lahir dari rasa cinta terhadap Muhammadiyah. Namun kecintaan tersebut harus diwujudkan melalui cara yang sesuai dengan prinsip keadaban dan supremasi hukum,” kata Prof. Kadim.

Ia menegaskan, Muhammadiyah sebagai organisasi besar selalu memprioritaskan penyelesaian persoalan melalui jalur konstitusional. Menurutnya, langkah hukum yang ditempuh merupakan bentuk tanggung jawab moral dan institusional untuk menjaga kehormatan organisasi serta pimpinan persyarikatan.

“Kami tidak ingin Muhammadiyah terseret dalam konflik jalanan. Kami memilih jalur hukum agar kebenaran dapat ditegakkan secara objektif dan bermartabat,” ujarnya.

Prof. Kadim juga mengajak seluruh kader Muhammadiyah memandang peristiwa ini sebagai sarana pendewasaan dalam berorganisasi. “Menahan diri bukan berarti takut, tetapi menunjukkan kematangan sikap dan kelas gerakan. Muhammadiyah harus tetap menjadi pelopor pencerahan, bukan sumber kegaduhan,” katanya menambahkan.

Pilih Mengawal Jalur Hukum

Menindaklanjuti imbauan tersebut, sekitar pukul 11.30 Wita perwakilan AMM Gorontalo melakukan kunjungan ke Polda Gorontalo untuk mendapat penjelasan terkait perkembangan penyelidikan.

Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah (PWPM) Gorontalo, Zainuddin,  menyatakan bahwa penghentian rencana aksi merupakan bentuk ketaatan terhadap instruksi pimpinan PWM Gorontalo.

“Kami menghentikan aksi atas permintaan Ketua PWM, karena beliau sudah memastikan proses hukum tengah berjalan dengan baik. Kami datang ke Polda untuk mempertegas komitmen tersebut,” katanya.

Zainuddin menambahkan, AMM sebenarnya memiliki kemampuan untuk menggerakkan massa dalam jumlah besar, namun memilih jalur konstitusional sebagai bentuk kedewasaan organisasi. “Kami bisa saja melibatkan ribuan kader dari sekolah dan kampus, tetapi karena kami taat kepada pimpinan dan menjunjung tinggi hukum, kami memilih berkomitmen pada proses ini,” pungkas Zai.


Editor: Buyung