FOKUSNEWS.CO.ID – Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGo) kembali mencatatkan sejarah penting. Pada pelaksanaan wisuda ke-XXII Program Magister, Profesi, dan Sarjana UMGO yang digelar di Gedung Serbaguna David Bobihoe Akib tahun ini, UMGo berhasil wisudakan 430 lulusan, menjadikannya sebagai wisuda terbanyak sejak UMGo berdiri.
Hal tersebut disampaikan langsung oleh Rektor UMGo, Prof. Dr. Abd. Kadim Masaong, M.Pd., saat diwawancarai usai prosesi wisuda.
“Wisuda kali ini terdiri dari tiga aspek utama, yaitu sarjana, profesi, dan magister. Ini menunjukkan progres yang sangat baik dari pelaksanaan wisuda UMGo dari tahun ke tahun,” ungkap Kadim, selasa (23 Desember 2025)
Dominasi Lulusan Bidang Kesehatan Dari total 430 wisudawan, 271 lulusan berasal dari bidang kesehatan, menjadikannya fakultas dengan kontribusi lulusan terbanyak. Sementara sisanya berasal dari lima fakultas lainnya, termasuk Fakultas Sains dan Fakultas Industri. Selain itu, sebagian lulusan juga merupakan mahasiswa Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), khususnya dari jalur alih jenjang Diploma III ke Sarjana (S1).
“Alumni RPL ini cukup banyak, baik di bidang kesehatan, industri, maupun sains. Ini menunjukkan UMGo membuka ruang pendidikan lanjutan bagi para profesional,” jelasnya.
Wisuda Strategis Menuju Excellent University
2030 Rektor UMGo menegaskan bahwa wisuda kali ini memiliki nilai strategis, karena UMGo tengah memasuki fase kedua pengembangan kampus pada 2026–2030 dengan target menjadi Excellent University.
“Tahun 2026 kita masuk fase kedua pengembangan. Target besar kita adalah Excellent University. Karena itu kualitas SDM dan fasilitas terus kita tingkatkan,” tegas Prof. Kadim.
Ia menyebutkan, saat ini UMGo telah memiliki banyak dosen berkualifikasi lektor kepala dan lektor, sehingga kualitas akademik dinilai mampu bersaing dengan perguruan tinggi negeri.
Fasilitas Modern dan Ikon Kampus Baru
Dalam dua tahun terakhir, pembangunan fisik kampus UMGo berkembang pesat. Gedung perkuliahan hampir 100 persen rampung, didukung fasilitas modern dan peralatan canggih. Salah satu fasilitas unggulan adalah alat anatomi digital portable, yang bernilai tinggi dan menjadi ikon pembelajaran di UMGo.
“Fasilitas ini memang kita desain agar UMGo mampu berkompetisi secara sehat dan profesional,” ujarnya.
Rektor juga mengungkapkan bahwa pintu utama kampus UMGo nantinya akan dipindahkan ke bagian depan, sementara pintu lama menjadi akses samping. Hal ini seiring dengan. Pengembangan kawasan kampus dan akses jalan baru.
Minat mahasiswa terhadap Fakultas Kedokteran UMGo terus meningkat. Saat ini jumlah mahasiswa aktif mencapai 115 orang, dengan dua angkatan terakhir telah memenuhi standar maksimal penerimaan.
“Pendaftaran terus berjalan, bahkan saat ini sudah ada lebih dari sepuluh calon mahasiswa mendaftar,” kata Rektor optimistis.
Menariknya, UMGo juga dikenal sebagai kampus yang menjunjung tinggi nilai inklusivitas dan toleransi. Saat ini terdapat sekitar 10 mahasiswa non-muslim yang diwisuda, bahkan beberapa di antaranya dipercaya menduduki jabatan struktural.
“Di UMGo, kami tidak membedakan latar belakang agama. Yang terpenting adalah kapasitas dan integritas,” tegas Prof. Kadim.
Mahasiswa non-muslim juga tetap mengikuti Program asrama, dengan penyesuaian pada kegiatan keagamaan.
Tantangan Tinggi untuk Lompatan Besar
Menutup wawancara, Rektor UMGo menegaskan bahwa tantangan besar justru menjadi kunci kemajuan institusi.
“Kalau mau maju, tantangannya harus tinggi. Dengan tantangan besar, pikiran kita terbuka dan kita terdorong untuk berkembang,” ujarnya.
Ia menargetkan dalam dua tahun ke depan, UMGo akan mencapai berbagai target strategis menuju puncak pengembangan kampus pada Oktober 2027.
Sementara itu diwaktu yang berbeda, Prof. Dr. H. Irwan Akib, M.Pd. selaku Pimpinan Pusat Muhammadiyah bidang pendidikan dan olahraga, menegaskan bahwa keberhasilan lulusan perguruan tinggi tidak hanya ditentukan oleh capaian Indeks Prestasi Kumulatif (IPK), melainkan oleh karakter, sikap, dan nilai kemanusiaan yang terbentuk selama proses pendidikan.
Menurutnya, persoalan lapangan kerja tidak bisa disederhanakan hanya pada angka IPK. Banyak individu yang secara akademik berhasil dan memiliki jabatan tinggi, namun justru menghadapi berbagai persoalan serius akibat lemahnya karakter.
“Karena itu, Muhammadiyah sejak awal menempatkan pembentukan karakter sebagai bagian penting dari proses pendidikan, baik akademik maupun non-akademik,” tegasnya.
Ia berharap UMGo ke depan terus mengalami percepatan kemajuan, khususnya dalam peningkatan mutu dan akreditasi institusi, dengan catatan adanya kerja keras, kolaborasi internal, serta sinergi dengan pemerintah daerah dan masyarakat.
Terkait pendidikan agama, Prof. Iwan Akib menegaskan bahwa bagi Muhammadiyah, pendidikan merupakan urusan kemanusiaan. Oleh sebab itu, Muhammadiyah tidak membedakan latar belakang suku, agama, dan ras dalam memberikan layanan pendidikan.
Meski mahasiswa dibekali mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan sebagai identitas perguruan tinggi Muhammadiyah, mahasiswa non-Muslim tetap diberikan ruang dan kebebasan dalam menjalankan keyakinannya.
“Di beberapa wilayah Indonesia Timur, bahkan terdapat kampus Muhammadiyah dengan mayoritas mahasiswa non-Muslim, dan semua berjalan dengan baik dan harmonis,” ujarnya.
Dengan prinsip tersebut, Muhammadiyah berharap UMGo tidak hanya mencetak lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga berkarakter kuat, toleran, dan berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan, sebagai bekal menghadapi tantangan sosial dan pembangunan ke depan.













