Meskipun begitu, Nanang menuturkan bahwa agar ibu hamil yang mengalami Preeklamsia tidak memasuki kondisi yang buruk maka harus rajin melakukan pengecekan tekanan darah dan kondisi janin, istirahat yang cukup, mengkonsumsi obat penurunan tekanan darah sesuai rekomendasi dokter, serta memperbanyak mengkonsumsi makanan yang sehat.
“Tidak harus makanan mahal, kalau misal tidak mampu membeli daging maka ada telur, sayur bahkan ada daging ayam dan ikan laut yang banyak skali,” tutur Nanang.
Setiap bulan, petugas kesehatan memeriksa kondisi ibu hamil secara rutin di posyandu kantor desa. Mereka juga membagikan susu dan telur sebagai makanan tambahan untuk meningkatkan kesehatan para ibu hamil. Namun selalu saja saat pemeriksaan ada ibu hamil yang terdeteksi menderita preeklamsia.
Bahkan ada yang nyaris meninggal dan mengalami kejang hingga masuk ICU diakibatkan preeklampsia. Hal ini menjadi perhatian yang cukup serius bagi bidan desa dan para petugas kesehatan dari puskesmas. Dalam menjalankan tugasnya, Nanang dengan disiplin melakukan pemeriksaan berkala terhadap setiap ibu hamil yang memiliki riwayat preeklamsia.

Nanang lebih senang ketika ibu hamil tanpa ragu menghubunginya. Meski begitu menurut Nanang, ibu hamil termasuk kelompok rentan dengan tingkat kompleksitas penanganan yang tinggi.
“Paling sulit bagi saya yakni menangani kelompok rentan seperti ibu hamil muda, yang kurang edukasi tentang kehamilan, mengandalkan dan lebih percaya kepada dukun anak di desa,” ucapnya sambil menghela napas.
Nanang juga mengakui, Ia sering mengelus dada ketika menemukan ibu hamil yang sangat jarang memeriksakan diri ke posyandu atau tenaga kesehatan, lalu tiba-tiba mengalami kejang dan hilang kesadaran. Dengan perasaan khawatir, Ia harus menangani kondisi gawat darurat ini sambil memikirkan jarak desa yang jauh dari puskesmas. Namun, Ia bersyukur bisa melewati situasi kritis ini berkat bantuan cepat rekan tenaga kesehatan di puskesmas yang bersama-sama berjuang menyelamatkan ibu dan janin.
Lebih lanjut Nanang mengungkapkan, terkadang kesulitan juga menghiasi perjalanan pekerjaan Nanang. Salah satu hambatan yang Nanang rasakan seperti sangat lambatnya realisasi bantuan pembangunan gedung khusus berobat di poskesdes, serta rumitnya administrasi pengurusan untuk mendapatkan stok obat dan vitamin bagi ibu hamil dari puskesmas ke poskesdes. Sehingga pada akhirnya Nanang memutuskan untuk membeli sendiri obat-obatan tersebut.
Meski kerap menghadapi suka-duka dalam menangani ibu hamil, Nanang tetap menjalani setiap pengalaman itu dengan ikhlas, bahkan kerap menemukan hikmah dalam setiap tantangan yang ia lewati. Ia meyakini bahwa menjadi bidan desa adalah rezeki dari Tuhan. Keyakinan inilah yang terus memotivasinya dalam mengabdi kepada masyarakat.
Lebih lanjut, pelayanan kesehatan kepada masyarakat rentan seperti ibu hamil sangat penting dilakukan serta sangat perlu dilakukan. Semua akan terealisasi dengan baik ketika pemerintah juga ikut mendukung dengan langkah-langkah yang tepat. Akan tetapi, pada kenyataannya tidak seperti itu. Sebagai tenaga kesehatan di pelosok desa, Nanang terus menghadapi berbagai kesulitan. Mulai dari minimnya alat kesehatan, kelangkaan obat-obatan, hingga tidak adanya gedung khusus untuk pelayanan kesehatan.
Nanang sampai harus bersabar selama 3 tahun menunggu pembangunan ruangan untuk berobat. Namun dengan ketulusan hatinya, Nanang memberikan layanan ikhlas kepada siapa saja yang datang berobat. Bahkan Ia harus mengubah salah satu kamar rumahnya menjadi klinik darurat, untuk melayani warga yang membutuhkan pengobatan.
Menurut Nanang, akomodasi dari pemerintah untuk kelompok rentan masih jauh dari memadai. Salah satunya yakni, kendaraan seperti ambulance untuk membawa ibu hamil menuju rumah sakit, yang berjarak sekitar 20 Km dari desa dengan melintasi jalan yang rusak. Kondisi ini pernah memaksa warga mengangkut ibu hamil yang akan melahirkan menggunakan mobil pick-up.
“Mau tidak mau kami bawa ibu hamil ke puskes pakai pick up dari pada tidak ada sama sekali kenderaan, ” ujar Nanang.

Nanang menambahkan, bahwa kelompok rentan khususnya ibu hamil dengan preeklamsia, sangat membutuhkan BPJS untuk mempermudah akses pengobatan. Namun sayangnya, pemerintah masih lamban dalam memberikan pelayanan BPJS dan gagal memprioritaskan penerima manfaat yang benar-benar membutuhkan. Sebab ada masyarakat yang benar-benar miskin tapi BPJSnya tidak aktif atau tidak ada, sedangkan di lain sisi ada yang BPJSnya sudah double.
“Seharusnya pemerintah mendata lagi masyarakat yang perlu BPJS sehingga tepat sasaran,” tandas Nanang.
BPJS merupakan kebutuhan vital masyarakat, namun implementasinya kerap terkendala. Karena ketidakcermatan pemerintah, dan kurangnya upaya serius dalam mendistribusikan layanan sesuai kebutuhan. Padahal kelompok rentan seperti ibu hamil, perlu sekali untuk melakukan pemeriksaan ke Puskes atau bahkan ke rumah sakit.
Maka sepatutnya, pemerintah lebih memberikan perhatian lebih serta mendukung dan membantu segala kebutuhan bidan desa dalam menjalankan tugasnya. Namun kenyataan di lapangan, hal ini belum maksimal dan mengahambat penanganan ibu hamil, khususnya yang mengalami preeklamsia pemerintah kurang menyediakan akomodasi yang layak.
Penulis : Mirnawati Ahaya Editor : Bachrudin Una













