FOKUS NEWS– Disudut rumah sederhana, seorang wanita paruh baya bernama Ratna Suntu (73) terlihat sedang sibuk dengan pekerjaan rutinnya, memasak hingga matang jagung untuk dijual dipasar. Diusia yang mulai senja dengan kondisi mata yang terserang katarak, Ratna dengan pelan mengayunkan batang kayu yang disulap menjadi sebuah centong jagung.

Ratna sudah lebih 15 tahun menderita katarak, yang membuat matanya sebelah kanan tidak dapat melihat. Sedangkan mata sebelah kirinya, hanya dapat melihat dengan buram, samar dan kabur. Bahkan sangat sering mengeluarkan air mata yang kian hari mengganggu penglihatannya.

Meski kondisi keuangan pas-pasan, di pertengahan Februari 2025 Ratna memberanikan diri operasi katarak. BPJS memang menanggung prosedur bedahnya, tapi berbagai obat pendukung masih harus ia beli sendiri dengan uangnya yang terbatas. Sehingga, bertahun-tahun Ratna hanya bisa bersabar mengumpulkan sedikit demi sedikit uang untuk ditabung demi operasi katarak pada sebelah kanan matanya.

Pascaoperasi mata kanannya, Ratna disiplin meneteskan obat resep dokter. Biayanya tak murah, tapi ia rela asal penglihatannya pulih. Walau tak setajam dahulu, ia mengucap syukur bisa melihat kembali. Dokter mata menyarankan Ratna untuk memakai kacamata. Namun lagi-lagi, keterbatasan ekonomi membuat Ratna terpaksa menggunakan kacamata biasa yang sekedar untuk menghindari matanya agar tidak terkena debu maupun asap secara langsung ketika sedang beraktifitas.

Kacamatanya yang retak itu hanya bertahan berkat tempelan plastik seadanya, memperlihatkan betapa pas-pasannya kehidupan Ratna. Saat ini yang terpenting menurut Ratna, kacamata tersebut masih dapat melindungi matanya dari debu.

Hanya seminggu pascaoperasi katarak mata kanan, Ratna sudah kembali beraktivitas normal, seperti memasak untuk keluarga dan menyapu rumah. Bahkan Ratna kembali memproduksi butiran jagung rebus untuk dijual di pasar. Rutinitas ini akhirnya mulai memberi dampak kepada mata Ratna yang sudah di operasi. Tak jarang Ratna merasakan mata kanannya yang sudah dioperasi kembali buram, berair tanpa henti, dan perih menyengat. Tidak ingin matanya bertambah parah, Ratna berupaya pergi ke dokter spesialis mata untuk berobat, meski dengan keuangan yang terbatas. Ratna mencoba berbagai merek obat tetes mata, namun penglihatannya tetap buram tanpa perubahan. Meskipun begitu Ratna tetap berupaya untuk bisa beraktivitas seperti biasanya, bekerja di rumah dan berjualan di pasar untuk memenuhi kebutuhan hariannya.

Tampak dalam dandang berukuran sedang yang didalamnya terdapat butiran jagung sedikit demi sedikit di aduknya untuk persiapan dijual ke pasar. Setiap hari Minggu butiran Jagung rebus ini di jual oleh Ratna, dan ini merupakan satu-satunya mata pencaharian Ratna. Meskipun salah satu pantangan setelah operasi mata katarak yakni asap dan uap panas, namun Ratna harus memaksakan diri untuk tetap memasak jagung tersebut. Keterbatasan ekonomi salah satu alasan Ratna menunda operasi katarak mata kirinya, meski dokter yang merawatnya telah menganjurkan untuk segera melakukan tindakan tersebut.

Ratna enggan mengikuti saran dokter, dikarenakan dana berobat yang masih terbatas. Selain itu, ia juga takut memaksakan operasi justru akan membuat penglihatannya buram kembali, sama seperti yang terjadi pada mata kanannya. Namun Ratna bertekad menjalani operasi katarak, meski belum memutuskan waktu yang tepat untuk mengoperasi mata kirinya. Kini ia pasrahkan semua pada Tuhan, dengan kacamata yang rusak ia berharap tetap bisa mandiri di tengah keterbatasan, mata kanan belum pulih sempurna dan mata kiri yang semakin tertutup katarak.
Ratna Suntu (73) merupakan warga Desa Longalo, Kecamatan Bulango Utara, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo.
Esai Foto ini tayang atas izin Ibu Ratna dan juga pihak keluarga.
Penulis: Mirnawati Ahaya Editor : Bachrudin Una













