FOKUSNEWS, GORONTALO – Momen istimewa terjadi saat kepulangan Jemaah Haji Kloter 28 UPG asal Kota Gorontalo tiba pada Selasa (2/7/2025).
Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, menyambut mereka di Asrama Haji, dengan kabar gembira: jemaah kembali utuh 393 orang. Sebuah berkah luar biasa dalam perjalanan ibadah haji. Ini menjadi fokus utama Haji Gorontalo 2025.
“Alhamdulillah, berangkat 393 dan kembali juga 393. Artinya, dua kemungkinan yang biasa terjadi namun tidak terjadi di kloter ini, tidak ada yang wafat di Tanah Suci dan tidak ada yang tertinggal di rumah sakit Arab Saudi. Ini adalah nikmat besar dari Allah SWT,” ujar Gusnar
Dalam sambutannya, Gusnar menyampaikan selamat datang kepada seluruh jemaah haji. Ia juga berharap mereka memperoleh haji yang mabrur. Ia mengajak para jemaah untuk terus menjaga semangat ibadah sepulang dari Tanah Suci dengan memperbanyak amalan sunah.
“Saya berharap jemaah Kloter 28 bisa menjadi pelopor ibadah puasa Senin dan Kamis di masjid-masjid kita. Ini adalah sunnah Nabi yang perlu kita hidupkan bersama demi memperkuat identitas Gorontalo sebagai Serambi Madinah,” tambahnya.
Gusnar juga mendorong adanya evaluasi terbuka terhadap penyelenggaraan haji tahun ini. Ia meminta semua pihak mengirimkan catatan atau masukan, baik terkait tanggung jawab pemerintah pusat seperti akomodasi hotel dan aplikasi Nusuk, maupun hal-hal yang menjadi kewenangan daerah.
“Silakan kirim catatan kecil via WA ke dinas atau pejabat yang ada, nanti akan kami kumpulkan untuk kita evaluasi bersama,” kata Gusnar.
Lebih lanjut, Gusnar menyampaikan optimisme atas terwujudnya embarkasi haji penuh di Gorontalo. Proses ini kini hanya menunggu pelapisan runway Bandara Jalaluddin sebagai syarat utama penerbangan langsung ke Jeddah.
Pada kesempatan yang sama, salah satu jemaah Kloter 28, Abdurrahman Bahmid, mantan anggota DPD RI, turut menyampaikan pandangan terhadap pelaksanaan haji tahun ini. Ia mengapresiasi dedikasi para petugas kloter, pembimbing ibadah, tenaga kesehatan, dan panitia haji daerah.
“Secara umum pelaksanaan sudah bagus, tapi tentu ada catatan. Di tingkat pusat, ada masalah dengan akomodasi hotel yang terpisah, aplikasi Nusuk, dan sistem Tanazum. Semua itu berdampak ke daerah,” jelas Abdurrahman.
Ia juga menyoroti dua persoalan utama di kloter, yaitu kekurangan tenaga kesehatan dan pembimbing ibadah. Untuk itu, ia mendorong adanya solusi melalui pemberdayaan jemaah yang memiliki latar belakang di bidang kesehatan maupun pembimbingan.
“Alhamdulillah, di Kloter 28 jemaah yang berpengalaman berhasil diberdayakan dan ikut membantu petugas, mengingat jumlah petugas yang terbatas dan kompleksitas permasalahan yang dihadapi,” tandasnya,













