FOKUSNEWS, GORONTALO – Perebutan kursi Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo periode 2025-2029 semakin memanas. Dr. Andries Kango M.Ag secara resmi menyerahkan berkas pencalonannya di lantai dua gedung rektorat, jum’at (4/7/2025).
Andries yang saat ini menjabat sebagai Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Sultan Amai serta dikenal luas sebagai pengurus NU dan pengurus MUI Provinsi Gorontalo, membawa serta visi ambisius. Ia siap menempatkan IAIN Sultan Amai Gorontalo sebagai pionir global.
Andries menyatakan kehadirannya bukan sekadar memenuhi formalitas, melainkan sebuah komitmen kuat untuk membawa perubahan. Dalam pernyataannya kepada awak media, ia memaparkan garis besar visinya.
“Menjadi institut agama Islam negeri yang unggul, sebagai pusat integrasi keilmuan dan keislaman, berdaya saing global, serta berkontribusi dalam peradaban bangsa melalui tata kelola Perguruan Tinggi yang baik (good governance), kerja sama internasional, dan berwawasan ekoteologi,” tegas Andries.
Visi ini melampaui batas-batas konvensional, menantang IAIN Sultan Amai untuk berkiprah lebih jauh di kancah global sambil tetap berakar pada nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal. Ini menjadi pondasi utama Visi Rektor IAIN Sultan Amai.
Lima Program Utama untuk Transformasi Kelembagaan.
Dalam wawancara singkat setelah penyerahan berkas, Andries memaparkan lima program utama yang akan ia usung untuk mendukung visi besarnya. Kelima pilar ini akan menjadi motor penggerak transformasi IAIN Sultan Amai.
Pertama, ia akan meluncurkan inisiatif Political Influencer, yaitu sosialisasi kelembagaan yang masif.
“Kita perlu memastikan IAIN Sultan Amai dikenal luas, tidak hanya di Gorontalo, tetapi juga secara nasional dan internasional. Institusi kita harus menjadi influencer dalam diskursus keilmuan dan keislaman,” ujarnya.
Kedua, Andries bertekad membuka program studi baru yang berbasis integrasi keilmuan dan menjawab kebutuhan masyarakat terkini.
“Inovasi kurikulum krusial agar lulusan kita relevan dengan tantangan zaman,” tambahnya.
Ketiga, fokusnya adalah meningkatkan jumlah mahasiswa. Ia ingin IAIN Sultan Amai menjadi pilihan utama bagi calon mahasiswa dari berbagai latar belakang.
Keempat, Andries berencana memperluas kerja sama internasional untuk peningkatan mutu kelembagaan.
“Kemitraan global penting untuk pertukaran pengetahuan dan pengembangan kapasitas,” jelasnya.
Terakhir, ia berkomitmen meningkatkan kuantitas dan kualitas penelitian serta pengabdian masyarakat.
“Penelitian kita harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat, menjadi solusi atas berbagai persoalan,” pungkasnya.
Ekoteologi: Pilar Fundamental Menuju Peradaban Berkelanjutan
Salah satu elemen paling inovatif dan menjadi ciri khas dari visi Andries adalah penekanan kuat pada ekoteologi. Konsep ini, yang mengintegrasikan ajaran Islam dengan kesadaran lingkungan, dipandang sebagai arah baru yang fundamental bagi institusi pendidikan agama.
Andries melihat ekoteologi bukan sekadar topik tambahan, melainkan sebuah lensa baru untuk melihat peran Islam dalam menjawab krisis lingkungan global.
“Ini bukan hanya tren, tapi sebuah keharusan. Sebagai lembaga Islam, kita memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga bumi,” paparnya.
“Integrasi nilai-nilai keislaman dengan kesadaran lingkungan akan membentuk generasi yang tidak hanya cerdas spiritual dan intelektual, tetapi juga bertanggung jawab sosial dan ekologis.” tambahnya
Andries percaya, melalui implementasi ekoteologi, IAIN Sultan Amai dapat menghasilkan lulusan yang tidak hanya menguasai ilmu agama dan umum, tetapi juga memiliki kesadaran mendalam akan pentingnya menjaga keberlanjutan bumi sebagai amanah Ilahi.
Penerapan wawasan ekoteologi ini diharapkan membawa IAIN Sultan Amai menjadi pusat rujukan dalam kajian Islam dan lingkungan, sekaligus berkontribusi nyata pada peradaban bangsa yang harmonis dengan alam.













