Autopsi Ungkap Penyebab Kematian Pendaki Rinjani: Bukan Hipotermia, Tapi Kekerasan di Dada dan Punggung

Petugas medis di Rumah Sakit Bhayangkara Polda NTB di Mataram, NTB, memindahkan peti jenazah Juliana Marins ke mobil ambulans untuk dibawa ke Bali, Sumber : BBC
Petugas medis di Rumah Sakit Bhayangkara Polda NTB di Mataram, NTB, memindahkan peti jenazah Juliana Marins ke mobil ambulans untuk dibawa ke Bali, Sumber : BBC

FOKUSNEWS Dokter forensik, Ida Bagus Alit, mengonfirmasi penyebab kematian Juliana Marins, pendaki yang jatuh di Gunung Rinjani, karena luka parah, terutama di rongga dada dan punggung. Temuan ini menepis dugaan hipotermia. Alit melihat tidak ada tanda-tanda penurunan suhu tubuh drastis pada jasad Marins, seperti kehitaman atau kebiruan di ujung jari.

“Korban mengalami luka akibat kekerasan dan patah tulang di beberapa bagian. Penyebab kematian terbesar karena luka di bagian rongga dada dan punggung,” ujar dokter Ida Bagus Alit di lobi RSUD Bali Mandara Provinsi Bali, Jumat (27/06).

Dari hasil autopsi ini, dokter memperkirakan Juliana meninggal sekitar 20 menit setelah mengalami luka-luka tersebut. Ketika wartawan bertanya lebih lanjut soal perkiraan kematian Juliana, dokter Ida Bagus Alit menjawab:

“Data perhitungan saya, korban meninggal Rabu 25 Juni di rentang pukul 01.00 Wita hingga 13.00 Wita.”

Perkiraan ini bertentangan dengan keterangan Basarnas yang menyatakan Juliana ditemukan pada Selasa (24/06) malam, “dipastikan dalam kondisi meninggal dunia”.

Dokter Ida Bagus Alit menjelaskan kepada wartawan 

“Memang berbeda dengan pernyataan Basarnas. Ada selisih sekitar enam jam dari waktu yang disebutkan Basarnas. Ini berdasarkan data perhitungan dokter ya.”

Ia juga menambahkan Faktor lingkungan mempengaruhi kematian korban

“Perlu diingat, faktor lingkungan seperti suhu dan kelembaban, mempengaruhi perubahan setelah kematian. Bisa saja ada selisih.”