FOKUSNEWS – Keluhan masyarakat Desa Lelato, Kecamatan Sumalata, terkait distribusi air bersih PDAM Unit Buloila kembali mencuat. Pasokan air ke rumah warga, khususnya di kompleks rumah nelayan desa lelato, sering tersendat bahkan macet hingga berhari-hari. Kondisi ini membuat warga semakin resah karena kebutuhan sehari-hari sangat bergantung pada air PDAM.
Seorang warga, Maharani Ayuba, mengungkapkan bahwa dirinya mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari petugas PDAM setelah menyampaikan keluhan melalui status di media sosial.
Menurut Maharani, petugas sempat mendatangi rumahnya untuk mengecek pipa. Namun saat itu ia sedang menidurkan anaknya sehingga hanya anak kecil yang menyambut. Alih-alih menunggu, petugas langsung menuju rumah tetangga dan di sanalah terjadi ketegangan.
“Padahal air sudah macet sejak kemarin, wajar kalau kami mengeluh. Tetapi yang terjadi justru kami diperlakukan seperti ini. Kami ini rutin membayar, kalau tidak bayar tentu tidak mungkin kami berhak mengeluh,” ujar Maharani, Jum’at (26/9/25)
Kasus ini semakin menambah panjang daftar keluhan masyarakat terhadap pelayanan PDAM Unit Buloila, yang dinilai masih belum maksimal.
Sementara itu, petugas PDAM Unit Buloila, Ahmad Pomanto, memberikan klarifikasi. Ia menegaskan bahwa persoalan distribusi air memang kerap muncul, terutama di wilayah Lelato yang berada di ujung jaringan. Ahmad juga menegaskan sudah meminta masyarakat menyampaikan kendala melalui grup pelanggan agar penanganan lebih cepat.
“Sebenarnya kan munculnya status ini, awalnya karena ada keluhan di Facebook. Padahal di grup pelanggan sudah saya sampaikan, kalau ada masalah air tolong dilaporkan disertai foto. Semua desa ter-cover, dari Tumba, Buloila, Lelato, hingga Kikiya,” jelas Ahmad.
Ia mengaku sudah lebih dulu melakukan pengecekan pipa di rumah Maharani dan menemukan kendala teknis keran terkunci.
“sebelum ada keluhan di Facebook, saya datang ke rumah beliau untuk mengecek ternyata stop kran terkunci, makannya air ke dalam rumah tidak ada” tegas Ahmad
Ahmad juga menambahkan bahwa pembayaran air di wilayah Lelato tidak dihitung per kubik, melainkan standar Rp28.500 per bulan, dengan kebijakan keringanan jika ada keterlambatan.
“Kalau memang air betul-betul tidak ada, saya siap bertanggung jawab. Hanya saja di kasus ini, posisi keran rumah terkunci sehingga air tidak mengalir. Itu sudah saya laporkan ke grup agar tidak ada salah paham,” ujarnya.
Ahmad juga menegaskan bahwa dirinya hanya menjalankan tugas berdasarkan SK dari pimpinan, dan setiap laporan masyarakat akan diteruskan ke kantor pusat PDAM di Kwandang untuk ditindaklanjuti.













