Saat Sawah Mengering, Tambang Jadi Pilihan Terakhir Warga Pohuwato

 FOKUSNEWS.CO.ID,POHUWATO – Bagi sebagian warga Pohuwato, kemarau bukan sekadar persoalan cuaca. Ketika hujan tak kunjung turun, sawah mulai mengering dan hasil pertanian tak lagi bisa diandalkan, pilihan untuk mendapatkan penghasilan pun semakin sedikit. Sabtu, (26/9/26)

Di tengah kondisi itu, aktivitas pertambangan menjadi salah satu tempat warga menggantungkan harapan.

Di balik polemik Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang terus mendapat sorotan, terdapat kelompok masyarakat kecil yang melihat tambang dari sudut pandang berbeda. Bagi mereka, masuk ke lokasi tambang bukan semata-mata untuk mengejar keuntungan besar, melainkan untuk mencari penghasilan ketika pekerjaan sebagai petani tidak bisa diandalkan.

“Di musim kemarau panjang, hanya tambang yang menjadi penopang ekonomi masyarakat di Pohuwato. Kami bersyukur ada tambang emas. Tambang menjadi tempat pelarian kami saat musim kemarau,” ungkap salah seorang warga penambang di Pohuwato.

Kondisi di lapangan membuat sebagian petani memilih mengubah sementara pekerjaannya. Saat lahan pertanian kekurangan air dan risiko gagal panen meningkat, tambang dianggap sebagai salah satu pilihan yang masih memungkinkan mereka mendapatkan uang untuk kebutuhan keluarga.

Hasil yang diperoleh pun tidak selalu besar. Bagi penambang kecil, penghasilan dari aktivitas tersebut digunakan untuk kebutuhan yang sangat sederhana—membeli beras, membayar kebutuhan sekolah anak, hingga memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari.

“Kalau tidak ada tambang, kami mau kerja apa? Kami bukan orang kaya. Kami hanya berharap ada solusi, bukan hanya penangkapan,” kata warga tersebut.

Suara seperti ini memperlihatkan sisi lain dari persoalan PETI di Pohuwato. Penegakan hukum tetap menjadi kewajiban negara, terutama terkait aktivitas pertambangan tanpa izin dan kawasan yang dilindungi. Namun, persoalan sosial di balik aktivitas tersebut juga tidak bisa dilepaskan begitu saja.

Sebab, tidak semua orang yang berada di lokasi tambang merupakan pemilik modal atau pengusaha besar. Ada masyarakat yang datang karena tidak memiliki banyak pilihan pekerjaan ketika musim kemarau membuat sektor pertanian kehilangan daya dukungnya.

Di sinilah pemerintah menghadapi persoalan yang tidak sederhana.

Penertiban harus berjalan, tetapi pada saat yang sama masyarakat membutuhkan alternatif mata pencaharian yang benar-benar bisa memberikan penghasilan. Tanpa solusi ekonomi, penutupan atau penindakan terhadap aktivitas tambang berisiko hanya memindahkan persoalan dari lokasi tambang ke meja makan keluarga.

Karena itu, warga berharap penanganan PETI tidak berhenti pada persoalan alat berat, lokasi tambang, ataupun siapa yang berada di balik aktivitas tersebut.

Mereka juga ingin pemerintah melihat orang-orang yang berada di bagian paling bawah dari rantai ekonomi pertambangan.

“Kami hanya ingin ada pekerjaan lain. Kalau ada pilihan yang bisa menghidupi keluarga, tentu kami juga ingin bekerja dengan tenang,” menjadi harapan yang tersirat dari keresahan para pekerja kecil.

Persoalan ini menjadi semakin penting di tengah musim kemarau dan tekanan ekonomi masyarakat. Ketika sektor pertanian belum mampu memberikan kepastian penghasilan, tambang akhirnya menjadi semacam katup penyelamat bagi sebagian keluarga.

Di satu sisi ada aturan yang harus ditegakkan. Di sisi lain ada kebutuhan hidup yang tidak bisa ditunda.

Bagi penambang kecil di Pohuwato, tambang bukan selalu tentang menjadi kaya. Dalam banyak kasus, itu adalah tentang bagaimana hari ini mereka bisa membawa pulang sesuatu untuk keluarganya.

Dan di antara polemik PETI serta tuntutan penegakan hukum, pertanyaan besarnya tetap sama: ketika tambang ditutup, ke mana masyarakat kecil harus mencari penghasilan untuk bertahan hidup?